Membangun Ekosistem Literasi di Kelas
Literasi merupakan fondasi krusial dalam perkembangan individu dan kemajuan
suatu bangsa. Kemampuan ini tidak hanya mencakup keterampilan dasar membaca,
menulis, berbicara, dan mendengarkan, tetapi juga berkembang menjadi
kecakapan mengolah informasi dan pengetahuan untuk kehidupan sehari-hari. Di
era kontemporer, literasi telah meluas hingga mencakup keterampilan berpikir
kritis dalam memanfaatkan beragam sumber pengetahuan, baik cetak, visual,
digital, maupun auditori, yang secara kolektif dikenal sebagai literasi
informasi, sebuah kompetensi esensial di abad ke-21.
Meskipun urgensinya sangat tinggi, data menunjukkan bahwa tingkat literasi
di Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan laporan UNESCO,
minat baca di Indonesia tergolong rendah, dengan hanya sekitar 0,001% atau
satu dari seribu orang yang memiliki kegemaran membaca. Asesmen Kompetensi
Siswa Indonesia (AKSI) pada tahun 2016 juga mengonfirmasi rendahnya
kemampuan literasi di negara ini. Kondisi ini memiliki dampak yang
signifikan, termasuk keterbatasan siswa dalam memahami materi pelajaran dan
menghambat perkembangan pendidikan secara keseluruhan. Rendahnya kemampuan
literasi ini secara langsung dapat menghambat pencapaian kecakapan abad
ke-21 yang vital untuk pembelajaran sepanjang hayat, serta berdampak negatif
pada kualitas pendidikan dan potensi pembangunan sosial-ekonomi bangsa,
bahkan dapat berkorelasi dengan peningkatan kemiskinan karena individu
kesulitan mengakses pekerjaan yang layak. Untuk mengatasi tantangan ini,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah
(GLS) pada Maret 2016. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca
peserta didik, meningkatkan keterampilan membaca, dan membentuk warga
sekolah yang literat dalam berbagai aspek literasi, termasuk baca tulis,
numerasi, sains, digital, finansial, budaya, dan kewargaan. Peningkatan
kemampuan literasi secara fundamental dimulai dari pembangunan lingkungan
yang literat. Lingkungan yang literat secara khusus diharapkan dapat
menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar literasi. Ini menggarisbawahi bahwa
pembangunan lingkungan yang literat bukan sekadar program tambahan,
melainkan fondasi esensial untuk menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam
belajar literasi dan budaya membaca secara berkelanjutan.