Materi PJOK : Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Jalan, Lari, Lompat dan Lempar

Dalam olahraga, lari merupakan salah satu nomor cabang atletik. Nomor lain di cabang atletik ialah jalan, lompat, dan lempar. Pada pelajaran ini, kamu akan diajak melakukan variasi dan kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar.

Aktivitas jalan, lari, lompat, dan lempar merupakan gerakan dasar semua cabang olahraga. Atletik juga menjadi sarana pendidikan untuk meningkatkan daya tahan, kekuatan, kecepatan, dan ketangkasan.

A. Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Jalan, Lari, dan Lompat melalui Aktivitas Atletik

Lari adalah kegiatan melangkahkan kedua kaki dengan gerakan cepat. BerLari berbeda dengan aktivitas berjalan. Olahraga dengan gerakan berjalan di antaranya jalan santai, jalan normal, jalan cepat, dan jalan kaki jarak jauh (hiking). Saat berjalan, salah satu kaki menyentuh tanah. Dalam berlari, ada saatnya kedua kaki tidak menyentuh tanah sepenuhnya. Saat berlari, kamu seolah-olah melayang di udara.

mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak jalan, lari, dan lompat. Selanjutnya, kamu diajak mempelajari variasi dan kombinasi gerak dasar jalan, lari, dan lompat melalui aktivitas atletik. Lari jarak pendek dikenal dengan istilah lari cepat atau sprint. Untuk melakukan lari cepat, kamu membutuhkan kekuatan dan kecepatan.

1. Variasi Jalan dengan Kombinasi Lari

Pada materi ini, kamu akan mempraktikkan variasi jalan maju dan mundur dengan kombinasi lari jarak pendek (sprint relay). Variasi jalan maju dan mundur dengan kombinasi lari jarak pendek dapat dilakukan secara berkelompok. Aktivitas ini dapat menumbuhkan semangat kebersamaan dan kedisiplinan.
  • a. Kelompok berkumpul di pos peralihan yang berjarak 10 meter. Setiap anggota kelompok berjalan dan berlari melintasi dua tiang bendera. 
  • b. Pelari pertama berjalan maju dan mundur dengan kombinasi lari menuju tiang bendera. Saat sampai pada papan segitiga pertama, pelari harus berjalan mundur ke awal start. Selanjutnya, pelari pertama berjalan maju menuju papan segitiga kedua, kemudian berjalan mundur ke papan segitiga pertama. Pelari berjalan menuju papan segitiga ketiga dan berjalan mundur ke papan segitiga kedua. Pelari berjalan maju ke papan segitiga keempat dan berjalan mundur ke papan segitiga ketiga. Variasi gerak dasar ini dikombinasikan dengan berlari menuju tiang bendera pada garis finis. Setelah mengitari tiang kedua, pelari pertama embali ke pos peralihan.
  • c. Pelari kedua mulai berlari seperti pelari pertama. Aktivitas ini dilakukan hingga semua anggota kelompok mendapat giliran.
  • d. Penilaian dalam aktivitas ini berdasarkan kecepatan dan ketangkasan anggota kelompok.

2. Variasi Lari Pelan dan Lari Cepat dengan Kombinasi Lompat Melewati Palang

Aktivitas ini membutuhkan palang atau halang rintang setinggi 40 cm. Setiap halang rintang berjarak 6,5 m pada lintasan. Aktivitas ini dapat dilakukan secara berkelompok. Setiap anggota kelompok melakukan variasi lari pelan dan lari cepat dengan kombinasi melompati halang rintang.

Posisi awal, anggota kelompok berkumpul di belakang garis start. Pelari pertama berlari pelan dan cepat dengan kombinasi melompati halang rintang. Setelah pelari pertama sampai di garis finis, pelari kedua berlari hingga finis, begitu seterusnya. Penilaian variasi dan kombinasi gerak dasar lari dan lompat diambil berdasarkan kecepatan dan ketepatan melompat.

3. Variasi Lari Pelan dan Lari Cepat dengan Kombinasi Lompat Jauh

Lompat jauh termasuk salah satu nomor atletik. Melalui lompat jauh, kamu akan berlatih variasi lari dengan kombinasi lompat. Olahraga ini membutuhkan kecepatan lari, diikuti dengan lompatan. Agar dapat melompat sejauh-jauhnya, pelompat berlari terlebih dahulu. Lompat jauh adalah aktivitas gerak lari diikuti lompatan dengan tumpuan satu kaki. Untuk menunjang olahraga ini, diperlukan papan tumpuan dan pasir.

Gerak dasar lompat jauh meliputi awalan, tolakan, melayang, dan mendarat. Awalan menentukan hasil lompatan. Pelompat melakukan variasi lari pelan dan lari cepat. Saat mendekati balok tumpuan, pelompat menentukan kaki tumpuan. Gerakan ini dikombinasikan dengan melompat. Saat menolak, pelompat dapat menggunakan satu kaki paling kuat. Saat bertumpu, badan condong ke depan. Saat melayang di udara, tangan diayun ke depan mengikuti gerakan badan. Akhirnya, saat mendarat, pelompat harus mengoordinasikan kaki, kepala, tangan, dan tumit. Pelompat melakukan pendaratan dengan kedua kaki diikuti ayunan tangan ke depan untuk menjaga keseimbangan.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam lompat jauh.
  1. Awalan sangat menentukan hasil lompatan. Pelompat melakukan gerak jalan, kemudian lari sprint. Menjelang balok tumpuan, pelompat menambah kecepatan lari. Pelompat menentukan kaki yang menginjak balok tumpuan.
  2. Saat melakukan tolakan, gunakan satu kaki paling kuat. Posisi kaki tumpuan tepat pada balok tumpuan. Pada saat bertumpu, badan condong ke depan. Pandangan jauh ke depan. Lakukan ayunan paha secara cepat. 
  3. Saat melayang, tangan diayun ke depan mengiringi gerakan badan. Kaki diluruskan, kemudian sedikit ditekuk sehingga badan dalam sikap jongkok. Pandangan lurus ke depan dan fokus pada titik pendaratan. 
  4. Saat mendarat, perlu koordinasi gerak kaki, kepala, tangan, dan tumit. Tujuannya agar lompatan maksimum. Kedua tangan diluruskan ke depan, mendarat dengan kedua kaki. Saat tumit menyentuh pasir, gerakkan badan ke depan.

4. Variasi Lari di Tempat dan Lari Cepat dengan Kombinasi Lompat Melewati Rintangan

Olahraga akan mengasyikkan jika dilakukan sambil bermain. Cara ini dapat diterapkan dalam variasi dan kombinasi gerak jalan, lari, dan lompat melewati rintangan. Lakukan variasi lari di tempat dan lari cepat sejauh 10 meter dengan kombinasi lompat melewati rintangan. Awalnya, berlari di tempat, kemudian berlari cepat sejauh 10 meter. Saat berada di garis tolakan, lakukan lompatan di beberapa titik pada area yang ditentukan. Area pertama diberi poin 1, area kedua diberi poin 2, area ketiga diberi poin 3, dan seterusnya. Nilai akhir aktivitas ini diperoleh dari hasil penjumlahan poin semua anggota kelompok.

      Materi PJOK : Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Dalam Berbagai Permainan Bola Kecil


      B. Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Nonlokomotor, Lokomotor, dan Manipulatif dalam Permainan Rounders
      variasi dan kombinasi gerak dasar nonlokomotor, lokomotor, dan manipulatif dalam bermain rounders. Dalam bermain rounders, gerakan yang perlu dikuasai ialah melempar bola, menangkap bola, memukul bola.

      1. Variasi Gerak Dasar Manipulatif dengan Kombinasi Gerak Dasar Nonlokomotor dalam Permainan Rounders
      Ingatlah kembali gerakan melempar bola pada permainan kasti. Jika diperhatikan, gerakan melempar bola dalam bermain rounders meliputi tiga gerakan.

      a. Memegang dan Melempar Bola Lambung dengan Meluruskan Lengan
      Variasi gerak dasar nonlokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif dalam melempar bola melambung untuk melakukan operan jarak jauh. Lemparan ini juga dilakukan untuk melambungkan bola kepada teman yang berjarak cukup jauh.
      Cara melakukan variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar nonlokomotor dalam melempar bola melambung. Awalnya, berdiri dengan posisi kaki kiri di depan. Tangan kanan memegang bola ditarik ke belakang atas kepala. Posisi badan agak condong ke belakang. Ayunkan tangan dan luruskan lengan ke depan dari atas. Lemparkan bola dengan kuat ke arah atas depan secara melambung.

      b. Memegang dan Melempar Bola Mendatar dengan Mengayunkan Lengan dari Samping
      Amatilah variasi gerak dasar manipulatif dan kombinasi gerak dasar nonlokomotor dalam gerakan melempar bola mendatar seperti Gambar 2.10. Praktikkan variasi dan kombinasi gerak dasar tersebut! 

      Cara melakukan variasi gerak dasar nonlokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif dalam melempar bola mendatar. Posisi awal, berdiri dengan kaki kiri di depan. Tangan kanan memegang bola setinggi dada, kemudian tarik ke samping badan. Ayunkan lengan ke depan dari samping badan dengan cepat. Lemparkan bola lurus ke depan (horizontal).

      c. Memegang dan Melempar Bola bawah dengan Merendahkan Badan
      Amatilah Gambar 2.11 tentang gerakan melempar bola bawah atau menyusur tanah. Gerakan ini dilakukan dengan variasi gerak dasar nonlokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif. Awalnya, berdiri dengan posisi kaki kiri di depan. Tangan kanan memegang bola, kemudian tarik tangan ke belakang. Ayunkan tangan ke depan dari bawah dengan membungkukkan badan. Saat tangan
      berada di depan, lemparkan bola menyusur tanah.

      2. Variasi Gerak Dasar Manipulatif dengan Kombinasi Gerak Dasar Lokomotor dalam Memukul Bola Rounders
      Dalam gerakan memukul bola rounders, kamu dapat melakukan variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar lokomotor. Pada saat memukul, kamu melakukan variasi berjalan ke depan dan belakang dengan kombinasi memukul bola rounders. Dalam rounders, gerakan memukul bola terdiri atas pukulan tanpa ayunan (bunt) dan pukulan dengan ayunan (swing). Pukulan tanpa ayunan (bunt) hanya menyentuhkan kayu pemukul dengan bola tanpa mengayunkan. Pemukul menunggu bola mengenai kayu pemukul. Pantulan bola jatuh dekat pemukul. Pukulan tanpa ayunan (bunt) untuk mengelabui regu penjaga. Amatilah gerakan memukul dalam permainan rounders seperti Gambar 2.12. 

      Cara melakukan variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar lokomotor dalam memukul bola rounders, carilah informasi mengenai langkah-langkah melakukan pukulan pada rounders pada internet. Catatlah informasi yang ditemukan.

      3. Variasi Gerak Dasar Lokomotor dengan Kombinasi Gerak Dasar Manipulatif dalam Menangkap Bola Rounders
      Cara melakukan variasi gerak dasar lokomotor dengan kombinasi manipulatif dalam menangkap bola rounders. Dilihat dari arah datangnya bola, gerak dasar menangkap bola, terdiri atas menangkap bola melambung, bola mendatar, dan bola bawah atau menyusur tanah.
      Setiap pemain hendaknya memiliki kecepatan saat berlari. Keterampilan ini dibutuhkan saat berlari menuju base untuk memperoleh poin. Pada kondisi tertentu, pemain harus berlari sekencang-kencangnya melewati base yang telah ditentukan hingga kembali ke home base.

      4. Bermain Rounders
      Sebagai permainan beregu, pemain rounders harus bermain dengan kompak. Sikap disiplin dan tanggung jawab pemain juga menjadi ”kunci” keberhasilan dalam permainan ini. 

      a. Lapangan dan Peralatan
      Lapangan rounders berbentuk segi lima beraturan dengan panjang tiap sisi 15 m. Setiap sudut lapangan terdapat base (papan hinggap). Ada lima base (tempat hinggap), yaitu tempat hinggap I, tempat hinggap II, tempat hinggap III, tempat hinggap IV, dan tempat hinggap V atau rumah. Jarak antartempat hinggap sekira 15 m.

      b. Ketentuan Permainan
      Rounders dimainkan dua regu, yaitu regu pemukul dan regu penjaga. Dalam bermain, biasakan bertindak sportif sesuai peraturan permainan.

      1) Jumlah Pemain
      Dalam rounders, setiap regu terdiri atas 12 pemain inti dan 6 pemain cadangan. Setiap regu dipimpin seorang kapten. Pemain inti mengenakan kostum bernomor angka 1–12. Pemain cadangan mengenakan nomor dada dari pemain inti yang digantikan.

      2) Waktu Permainan
      Dalam setiap permainan rounders, terdapat tiga inning (babak). Ketentuannya, satu inning terdiri atas satu kali jaga dan satu kali memukul untuk setiap regu. Permainan rounders dinyatakan selesai jika setiap regu telah memperoleh giliran tiga kali menjadi regu pemukul dan jaga.

      3) Regu Pemukul
      Regu pemukul berada di area bebas. Setiap pemain regu pemukul boleh memukul bola tiga kali. Pukulan dinyatakan benar jika:
      a) pukulan mengenai bola dan jatuh di tanah dalam garis batas,
      b) bola jatuh dalam sudut antara garis yang menghubungkan base IV dan base V atau antara base I dan base V. 

      Jika pukulan pertama dinyatakan benar, pemain tidak boleh melakukan pukulan kedua atau ketiga. Pemukul menuju base I. Jika lemparan pitcher dianggap salah, pemukul dapat menolak lemparan pitcher. Jika lambungan salah dan pemain memukul bola tersebut, wasit menganggap sebagai pukulan.

      4) Regu Penjaga
      Setiap pemain regu penjaga menempatkan diri di area lapangan. Pemain yang menjaga base disebut baseman. Tugas baseman adalah menangkap bola yang dilemparkan penjaga lain untuk menyentuhkan bola ke badan pemukul yang berlari ke arah base yang dijaganya. 

      Catcher berperan penting dalam mematikan lawan. Catcher dipilih dari pemain paling cekatan menangkap bola. Catcher bertugas menangkap bola yang dioper pitcher kepada pemukul, tetapi bola tidak terpukul. Catcher boleh langsung mematikan lawan.

      Catcher, Jenderal Lapangan dalam Rounders
      Dalam rounders, pemain penangkap bola (catcher) diibaratkan jenderal lapangan. Mengapa? Catcher harus dapat menjalin komunikasi yang lancar dalam timnya. Saat bermain, catcher memiliki pandangan lebih luas daripada teman satu tim. Catcher selalu memberi informasi atau instruksi jelas sebagai rujukan teman satu tim di setiap base.

      5) Wasit
      Wasit bertugas memimpin permainan rounders. Wasit didampingi tiga wasit pembantu (penjaga garis) dan satu wasit pembantu (pencatat nilai). Dalam rounders, wasit menggunakan peluit, suara, jari, dan lengan sebagai aba-aba kepada pemain.

      6) Pergantian Pemain
      Pergantian pemain dalam rounders dilakukan jika:
      a) terjadi enam kali kesalahan yang dilakukan regu pemukul; dan
      b) lima kali bola tertangkap regu penjaga dalam satu inning.

      c. Penilaian
      Sistem penilaian pada permainan rounders sebagai berikut. 
      1) Nilai 2 jika pemain regu pemukul mampu memukul benar, kemudian menuju base I sampai base V dengan selamat (tidak dibakar baseman) atas pukulannya sendiri (home run).
      2) Nilai 1 jika pemain dari regu pemukul mampu memukul benar, tetapi di salah satu base, pemain tersebut berhenti dan menunggu pemukul lain melakukan pukulan sah untuk melanjutkan ke base V.
      3) Nilai 0 jika pemain dari regu pemukul melakukan pukulan benar, tetapi tidak berhasil mencapai salah satu base.
      4) Nilai 1 jika pemain regu penjaga mampu menangkap bola pukulan pemain regu pemukul.

      Rangkuman
      1. Variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar nonlokomotor dalam melempar bola kasti sebagai berikut. a. Memegang dan melempar bola lambung dengan mengayun lengan. b. Memegang dan melempar bola mendatar dengan mengayun lengan c. Memegang dan melempar bola bawah dengan menekuk kaki.
      2. Dalam gerakan memukul bola kasti, dapat dilakukan variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar lokomotor. Caranya dengan memukul bola dengan berjalan ke depan dan samping. Gerakan pukulan dapat dilakukan dengan pukulan atas, mendatar, dan bawah. 
      3. Variasi gerak dasar lokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif dalam kasti dilakukan dengan berjalan dan berlari dengan kombinasi menangkap bola. 
      4. Variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar nonlokomotor dalam permainan rounders sebagai berikut. a. Memegang dan melempar bola lambung dengan meluruskan lengan. b. Memegang dan melempar bola lambung dengan mengayunkan lengan dari samping. c. Memegang dan melempar bola bawah dengan merendahkan badan. 
      5. Pada gerakan memukul bola rounders, dapat dilakukan variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar lokomotor, yaitu memukul bola dengan berjalan ke depan dan samping. Gerakan pukulan dapat dilakukan dengan pukulan atas, mendatar, dan bawah. 
      6. Variasi gerak dasar lokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif dalam kasti ialah berjalan dan berlari dengan kombinasi menangkap bola.

      Materi PJOK : Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Dalam Berbagai Permainan Bola Kecil


      Kasti termasuk olahraga yang diminati banyak anak. Permainan kasti dimainkan oleh dua regu yang berkompetisi. Keberhasilan memenangi permainan bergantung pada kekompakan anggota regu. Permainan kasti juga meningkatkan gerak dasar lokomotor, nonlokomotor, dan manipulatif anak.

      banyak jenis permainan bola kecil di antaranya kasti dan rounders. Kasti dan rounders merupakan permainan beregu yang mengutamakan unsur kekompakan, ketangkasan, dan kegembiraan.

      A. Variasi dan Kombinasi Gerak Dasar Lokomotor, Nonlokomotor, dan Manipulatif dalam Permainan Kasti
      Kasti (honkbal) termasuk permainan bola kecil tradisional yang berkembang turun-temurun. 

      Dalam bermain kasti, kamu melakukan gerakan berjalan, berlari, menarik, mendorong, mengayun, melempar bola, memukul bola, dan menangkap bola. Gerak lokomotor meliputi berjalan, berlari, melompat, dan mengguling. Gerak nonlokomotor meliputi mengayun, membungkukkan badan, memutar badan, mendorong, dan menarik. Gerak manipulatif meliputi gerak melempar, memukul, dan menangkap bola.
       
      1. Variasi Gerak Dasar Manipulatif dengan Kombinasi Gerak Dasar Nonlokomotor dalam Melempar Bola Kasti

      a. Memegang dan Melempar Bola Lambung dengan Mengayun Lengan
      Pada permainan kasti, lemparan melambung dilakukan untuk mengoper bola kepada teman satu regu yang posisinya berjauhan. Amatilah dan praktikkan gerakan melempar bola lambung ke atas seperti pada Gambar 2.2!


      b. Memegang dan Melempar Bola Mendatar dengan Mengayun Lengan
      Lemparan bola mendatar dilakukan untuk mengoper bola kepada teman satu regu dalam posisi tidak berjauhan. Lemparan ini juga untuk mematikan lawan.

      gerakan melempar bola mendatar dengan berdiri dan mengayun lengan seperti berikut.
      1. Posisi berdiri, kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang.
      2. Pegang bola dengan tangan kanan secara kuat. Bola berada pada pangkal jari-jari.
      3. Tarik ke belakang siku tangan kanan, sedangkan posisi tangan kiri lurus di depan dada.
      4. Lemparkan bola dengan kuat secara lurus setinggi dada ke arah temanmu.
      5. Temanmu akan menerima bola dengan menjulurkan kedua tangan ke depan. Kedua telapak tangan dibuka dan dirapatkan menghadap ke arah datangnya bola.

      c. Melempar Bola Bawah dengan Mengayun Lengan dan Menekuk Kaki
      Lemparan bola bawah dilakukan pemain yang berposisi sebagai pelambung. Lemparan ini untuk memberikan bola kepada pemukul. Amatilah dan praktikkan gerakan melempar bola bawah seperti pada Gambar 2.4!

      cara melakukan kombinasi gerak dasar manipulatif dengan variasi gerak dasar nonlokomotor dalam melempar bola bawah. Posisi berdiri, kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang. Pandangan ke depan. Tangan kanan memegang bola dengan posisi di bawah sebelah pinggul. Tarik tangan ke belakang. Ayunkan tangan dari belakang ke depan, kemudian lemparkan bola menyusur tanah secara pelan.

      2. Variasi Gerak Dasar Manipulatif dengan Kombinasi Gerak Dasar Lokomotor dalam Memukul Bola Kasti
      Memukul bola dalam permainan kasti meliputi pukulan melambung, pukulan mendatar, dan pukulan bawah. Gerakan tersebut dapat dilakukan melalui variasi gerak dasar manipulatif dengan kombinasi gerak dasar lokomotor. Cara memukul bola dalam permainan kasti. Amatilah gerakan memukul bola dalam permainan kasti berikut!
      Cara melakukan variasi gerak dasar manipulatif dan kombinasi gerak dasar lokomotor dalam memukul bola, Simaklah uraian berikut.
      1. Pegang alat pemukul dengan satu tangan. Posisi awal berdiri, kemudian berjalan dan berlari menuju area pemukul. 
      2. Berdiri dengan posisi badan menyamping. Posisi pemain pelambung atau pengumpan di samping kiri pemukul. 
      3. Kedua kaki dibuka selebar bahu. Tekuk siku tangan yang memegang alat pemukul. Alat pemukul ditarik ke belakang bersiap untuk memukul bola. 
      4. Pandangan ke arah pelambung dan datangnya bola.
      5. Saat bola dilempar, pukul bola dengan mengayunkan tongkat mengenai bola. Lakukan lecutan pergelangan tangan saat bola berada dalam jangkauan.
      6. Bola dapat dipukul secara melambung, mendatar, atau ke bawah. Setelah memukul, melangkah dan berlarilah menuju pos atau tiang hinggap. Saat menuju tiang hinggap, pemukul dapat meluncur.
      3. Variasi Gerak Dasar Lokomotor dengan Kombinasi Gerak Dasar Manipulatif dalam Menangkap Bola Kasti

      Bagaimana variasi gerak dasar lokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif dalam menangkap bola? 
      Pada permainan kasti, gerakan manipulatif menangkap bola meliputi menangkap bola melambung, mendatar, dan menyusur tanah. Amatilah dan praktikkan gerakan menangkap bola seperti gambar berikut!





      Dalam bermain kasti, setelah berhasil memukul bola, pemain dapat berlari secepatnya menuju pos atau tiang hinggap. Saat berlari, pemukul juga harus menghindari bola yang dilempar mengarah ke badan.

      4. Bermain Kasti dengan Peraturan Dimodifikasi

      Keberhasilan dalam permainan kasti bergantung pada kerja sama, kedisiplinan, dan ketangkasan anggota regu. Permainan kasti memerlukan lapangan dan peralatan tertentu. Permainan kasti dimainkan dua regu. Satu regu sebagai pemukul dan satu regu sebagai penjaga.

      Dalam bermain kasti, kedua regu mendapatkan nilai dengan ketentuan sebagai berikut.
      1. Nilai 1 jika pemukul berhasil memukul bola, kemudian lari ke pemberhentian atau tiang pertolongan, tiang hinggap I, tiang hinggap II, dan area bebas secara bertahap.
      2. Nilai 2 jika pemukul berlari melewati tiang pemberhentian (tiang pertolongan, tiang hinggap I, tiang hinggap II) dan kembali ke area bebas atas pukulannya sendiri.
      3. Nilai 1 jika regu penjaga menangkap langsung bola lambung yang dipukul regu pemukul.

      Kamu telah mempelajari variasi dan kombinasi gerak dasar nonlokomotor, lokomotor, dan manipulatif dalam permainan kasti. Kamu dapat bermain kapan saja bersama teman-temanmu di lapangan. Saat bermain kasti, kembangkan sikap jujur (integritas), sportif, dan gotong royong (kerja sama).

      CLASSROOM ACTION RESEARCH ON STUDENTS' UNDERSTANDING OF NATURAL SCIENCE LESSONS


      I. INTRODUCTION  

      A. Background of the problem
      In the achievement of learning success, many factors influence, one of which is the form of learning. The success of learning in schools is indicated by the level of mastery or understanding of the teaching material by students, which is usually in the form of grades given by a teacher.

      The results of the learning activities carried out at SD Negeri 002 Muara Koman, showed students' understanding of science learning outcomes with the subject matter of Human Skeleton Structure and the Five Senses through a written test. satisfactory, especially on the questions in the form of Essays. 

      2. Problem Identification
      The results of the test given to 15 fourth grade students at SD Negeri 002 Muara Koman from 15 questions with details of 10 multiple choice questions 5 questions in the form of Essays, it turned out that students were only able to answer multiple-choice questions and even then there were no students whose answers were all correct. From this fact, it requires the author to do self-reflection on the problems that arise in the classroom by conducting Classroom Action Research (CAR) to identify problems in the classroom, namely the lack of students' understanding of science learning outcomes with the subject matter of Human Framework Structure and Tools. Five Senses through a written test.    

      In identifying in the classroom the difficulty of students understanding the teaching material that the author teaches, the author gets guidance from the supervisor and from colleagues who act as observators in providing input on the implementation of learning improvements. 

      3. Problem analysis
      With directions and inputs from supervisors and colleagues, the authors try to solve the identified problems, then analyze and try to trace the causes of learning problems in the classroom, by looking at the two main elements in learning, namely Students and Teachers, it is obtained:   
      Problems that arise because of the Teacher (Author)
      1. At the time of explaining the teacher is too fast
      2. The teacher does not provide concrete examples that are easy for students to understand
      3. Teachers still use conventional methods, namely monotonous lectures
      4. Questions and answers are not given to students
      Problems that arise because of students.
      1. Students do not pay attention to the teacher's explanation
      2. Students do not respond to the material taught by the teacher
      3. Students work together if given individual assignments
      B. Formulation of the problem
      Based on the results of the identification of problems that have been analyzed and explored with the Supervisor and Peers, the authors formulate the research problem as follows: "How to Use the Demonstration Method in Science Learning in Improving Students' Understanding on the Subject of the Structure of the Human Skeleton and the Five Senses in Class IV SD Negeri 002 Muara Koman for the 2009/2010 academic year. 

      C. Repair Purpose
      By the results of the formulation of the problem that has been determined, the purpose of this study is to improve students' ability to understand science lessons using the Demonstration method on the subject of Human Skeletal Structure and the Five Senses in Grade IV of SD Negeri 002 Muara Koman for the 2009/2010 academic year.

      D. Repair Benefits
      In this classroom action research, it is hoped that it will be useful or an alternative learning method in the classroom, while the writer hopes that this research can be useful for:

      1)  For Teacher

      This research can be used as a guideline to improve their performance as professional teachers and at the same time to improve the learning they manage.

       2)  For school

      This research is expected to make a contribution to the school in terms of improving the learning outcomes at the school. 

      3)  For Students

      This research is expected to provide an atmosphere that is not monotonous in learning so that students are not bored in learning.

      II. LITERATURE REVIEW 

      A. Learning outcomes
      Learning outcomes are abilities possessed by students after the recipients of their learning experiences experience changes in the abilities achieved by students (Sudjana, 2006)

      B. Consolidation of Professional Ability
      In essence, PKP is an activity program that provides learning experiences to improve the professional abilities of elementary school teachers in managing learning. This means that elementary school teachers are not only responsible for teaching five fields of study as classroom teachers in elementary schools, but also must be skilled at managing and improving or improving the learning process in other subjects, for example, Mathematics, Social Sciences (IPS), Natural Sciences (IPA), Citizenship Education (PKn) and Indonesian.                  

      C. Classroom action research
      Classroom Action Research (CAR) is a variety of learning research in the context of a classroom carried out by teachers to solve learning problems faced by teachers, improve the quality and learning outcomes and try out new learning things to improve the quality and learning outcomes.

      Based on the number and nature of the behavior of its members, CAR can be in the form of individual and collaborative, which can be called individual CAR and collaborative CAR. In individual CAR, a teacher carries out CAR in their own class or in someone else's class, while in collaborative CAR, several teachers synergistically carry out CAR in their respective classes and among members make visits between classes.

      Classroom Action Research (CAR) has the following characteristics:
      • It is cyclical, meaning that CAR is seen in cycles (planning, giving action, observing, and reflecting), as a standard research procedure.
      • It is longitudinal, meaning that CAR must take place within a certain period of time (eg 2-3 months) continuously to obtain the necessary data, not "one-shot" after its implementation.
      • It is particular-specific so it does not intend to generalize to obtain the arguments. The results are not to be generalized even though they may be applied by other people and in other places with similar contexts.
      • Participatory in nature, in the sense that teachers are researchers as well as agents of change and targets that need to be changed. This means that the teacher has a dual role, namely as the person who researches and who is also researched.
      • It is emic (not ethical), meaning that CAR looks at learning from an insider's point of view that is not far from what is being studied; not according to the point of view of outsiders who are distant from the thing being studied.
      • Collaborative or cooperative, meaning that in the implementation of CAR there is always cooperation or collaboration between researchers (teachers) and other parties for the validity and achievement of research objectives.
      • It is casuistic in nature, meaning that CAR works on specific or certain cases in learning that is real and affordable by the teacher; working on big problems.
      • Using the natural context of the class means that the class as a venue for the implementation of CAR does not need to be manipulated and or engineered for the needs, interests, and achievement of research objectives.
      • Prioritizing the adequacy of the data needed to achieve the research objectives, not the representativeness (representation of the number) of the sample quantitatively. Therefore, CAR only requires the use of simple statistics, not complicated ones.
      Intending to change reality, and learning situations for the better and meet expectations, not intending to build theories and test hypotheses, (Chotimah, Husnul, et al. 2005)

      The objectives of Classroom Action Research (CAR) are as follows:
      • Improve and improve the quality of learning practices carried out by teachers to achieve learning objectives.
      • Improve and improve learning performances carried out by teachers.
      • Identify, find solutions, and overcome learning problems in the classroom so that learning is quality.
      • Improve and strengthen the ability of teachers to solve learning problems and make the right decisions for students and the classes they teach.
      • Explore and produce learning creations and innovations (for example, approaches, methods, strategies, and media) that can be done by teachers to improve the quality of learning processes and outcomes.
      • Try new ideas, thoughts, tips, methods, and strategies in learning to improve the quality of learning in addition to the innovative ability of teachers.
      • Explore learning that is always insightful or research-based so that learning can rely on the empirical reality of the classroom, not solely on general impressions or assumptions, (Chotimah, Husnul, et al. 2005)
      Classroom action research is one type of research that is carried out in the classroom, this research arises because of problems in the classroom faced by teachers or students related to learning. This research was conducted to make improvements related to learning problems so that teachers can obtain solutions to the problems encountered so that complete learning can be achieved.

      D. Demonstration Method
      The demonstration method is a way of presenting subject matter with an oral explanation accompanied by examples of actions or showing a certain process which is then followed or tried by students to do it. In demonstrations, the teacher demonstrates or gives examples, which are then experimented with by students. Thus, a demonstration is always followed by experimental activities (Sudjana, 2002).

      The aims and benefits of this demonstration method are:
      • To provide a clearer picture and understanding than just an oral explanation.
      • To provide opportunities for students to make careful observations.
      • To avoid verbalism, because in this method after students see a demonstration or example students can try to do it.
      • To provide opportunities for students to make careful observations.
      • To avoid verbalism, because in this method after students see a demonstration or example students can try to do it.
      E. Science Lessons with Main Material Structure of the Human Skeleton and the Five Senses.
      Natural Science lessons (IPA) or commonly called Science is a compulsory subject in Elementary and Secondary education and the learning curriculum from the Director-General of National Education, science lessons in elementary grade IV are material, concerning the types of human skeletons, types of animals, and their breeding. In this classroom action research, the author takes the subject matter concerning the Human Skeleton Structure and the Five Senses.

      The body skeleton is composed of the neck bone to the tailbone, the neck bone is formed by seven bones. The cervical spine is continuous with the spine to the tailbone. The backbone of the tailbone is formed by 26 vertebrae. So the number of vertebrae from the neck to the tailbone is 33 vertebrae, and this is called the spine. The five senses that will be discussed in this study are the five senses of sight (eyes), the parts that protect the eyes are the eyebrows, eyelids, and eyelashes.

      III. IMPLEMENTATION OF REPAIRS

      A. Research subject
      This research was conducted in class IV of SD Negeri 002 Muara Koman. The implementation of this learning improvement was carried out in two cycles carried out according to the schedule determined by the supervisor and colleagues.

      B. Description Per Cycle
      At this stage the author makes an implementation plan and the actions to be taken, as for the stages as follows:

      1. Plan
      After holding a written test of the learning outcomes carried out in the classroom, it turned out that the test results were not in accordance with the expected assessment objectives, so the authors prepared a lesson plan for the next subject. The steps that the author takes for the next learning with different sub-topics, namely the Skeleton and the Five Senses of Man with the Demonstration method, while the schedule for the plan is as follows:

      Cycle I:
      • Students in the class will be divided into 2 groups with details of group I will be assigned to take the human skeleton, group II will be assigned to take the human eye skeleton, all of which have been provided by the teacher,
      • Students will be asked to name the parts of the human skeleton in their respective groups, with guidance by the teacher while the teacher points to the part of the human skeleton in question.
      • Students will be asked to tell about the human skeleton in their respective groups, which relates to the parts of the human skeleton and its functions, with the guidance of the teacher while the teacher points to the part of the human skeleton in question. 
      • Students will be asked to conclude about the parts and functions of the human skeleton in their group. 
      • The teacher holds a written test with 2 forms of questions, namely Multiple Choice and Essay (10 multiple choice questions and 5 questions Essay questions)
      Cycle II:
      • The group exchanged the possessed human skeleton. 
      • The teacher explains the parts of the human skeleton and their functions while demonstrating the names, types, and functions to students with the same human skeleton that each group has. 
      • The teacher holds questions and answers to students and responds to students who answer correctly, less correctly, or incorrectly.
      • The teacher holds a written test with 2 forms of questions, namely Multiple Choice and Essay (10 multiple choice questions and 5 questions Essay questions)
      2. Implementation
      By carrying out all the plans in the first cycle and following the signs of improvement according to the form of improving learning through Classroom Action Research, it gives meaningful and positive results. This is shown from the results of student scores which have increased compared to the results before learning with the Demonstration method even on other subjects. Of the 15 students' test scores in the first cycle, 1 student got a score of 80, 3 students got a score of 75, 3 students got a score of 65 and the rest were below 65. 

      The next step is implementing learning improvements in the second cycle. By carrying out all the plans in cycle II and following the signs of improvement according to the form of remedial learning through Classroom Action Research and it turns out that the ability of students to answer test results in the second cycle is very good because out of 15 students, there are 2 students who get a score of 100, 1 student gets 90, and 4 other students got a score of 85, while the value of 75 was obtained by 3 students and 5 students getting a score of 70. Thus, the improvements made by the author have been deemed successful in accordance with the assessment objectives desired by the author (teacher).

      C. Observation
      The implementation of learning improvement using the cycle I and II systems with the help of colleagues who act as observatories has succeeded in knowing the problems in the classroom quickly and accurately through data collection techniques in the form of written tests using the demonstration method. From this observation, the writer managed to collect data that was in accordance with the problems that the writer had stated in the background of this research. Based on the data on the existing problems, the writer can carefully determine the tools and learning methods according to the students' abilities, namely the Demonstration method.

      D. Reflection
      Reflection is part of classroom action research to improve the learning system, at this stage, the author tries to reflect on what are the weaknesses and strengths in the first cycle and try to improve the weaknesses and maintain the strengths in the second cycle. With the help of colleagues, the author made improvements to learning through two cycles using the Demonstration method. 

      Cycle I:
      • Weakness; Each group has a different human skeleton so that the mastery is only on the human skeleton in the group.
      • Strengths: Students clearly see what the object is being studied and explained by the teacher.
      Cycle II:
      • By exchanging the human framework described, all groups will understand more deeply about the object being studied. 

      IV. RESEARCH RESULTS AND DISCUSSION  

      A. Description Per Cycle
      In this chapter, the author will discuss the results of the research in accordance with the implementation of learning improvements that the authors have done in two cycles with different time spans in order to produce value and success in learning. In this section, the author presents the form of positive changes that occur in each cycle, in the form of a table of values. 

      Table of Values ​​in Grade IV of SD Negeri 002 Muara Koman After Repair
      From the table above, it can be seen that the achievement of values that occurred from cycle I and cycle II increased. 

      B. Discussion of Each Cycle
      The classroom action research that the author did in class IV SD Negeri 002 Muara Koman has shown positive success seen from the test results shown by students, namely by comparing the test results before learning with the demonstration method and learning outcomes in the first cycle, as well as the results of the first cycle compared with In the second cycle, all of them increased and there was even complete learning on the subject because the average score of students in class IV was above 70 (good).

      V. CONCLUSIONS AND SUGGESTIONS   
       
      A. Conclusion
      After carrying out learning improvement activities carried out at SD Negeri 002 Muara Koman on the understanding of students who lacked in science lessons with the subject matter of the relationship between the Skeleton and the Five Senses of Man by using the Demonstration method, then through two cycles of improvement in learning the students who got poor grades succeeded in showing their cognitive abilities in understanding the questions given by the teacher.

      This shows that with the implementation of learning improvements using this demonstration method, the teacher is able to reflect on himself so that the provision of material in class can be done correctly when giving an explanation is not too fast and the teacher is also able to provide concrete examples so that it is easy to understand. by students. In addition, the teacher must also be good at choosing the right teaching method and the teacher is also pleased to provide opportunities for students to ask questions. With the implementation of improved learning in this class, of course, it will make students enthusiastic in paying attention to the teacher's explanations and it is hoped that students will be enthusiastic in paying attention to the teacher's explanations and it is also hoped that students will not imitate each other's results in class.

      B. Suggestion
      Based on these conclusions, there are several things that must be considered by teachers in improving the quality of student learning, namely:
      • In the provision of subject matter, it should be done properly, if needed, use props appropriately and not confuse students' understanding.
      • When giving an explanation, don't be too quick and don't forget to use language that is easy for students to understand.
      • The teacher should ask questions and also provide opportunities to ask students.
      • There should be a follow-up to go through the Subject Teacher Consultation (MGMP) and attend training in order to improve the quality of teaching.
       
      LIST OF REFERENCES 

      Andayani, et al. (2007). Consolidation of Professional Capabilities. Jakarta: Open University.

      Chotimah, Husnul, et al. (2005). Classroom action research. Bandung: Alpha Beta

      Haryanto, (2007). Science for Grade IV Elementary Schools ; Jakarta, Erlangga

      Sudjana, (2002). Research Methodology and Statistics. Jakarta: Rineke Cipta

      Syaiful B.Dj. & Aswan Z. (2006). Teaching and Learning Strategy . Jakarta . Rineka Cipta 

      Transformasi Literasi Keuangan Digital: Analisis Strategis Pengelolaan Finansial di Era Ekosistem Digital Indonesia

      Paradigma Baru Literasi Keuangan dalam Arsitektur Ekonomi Digital Indonesia tengah berada di titik puncak transformasi digital yang mengubah...